Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

feature content slider

Template Information

Contact online



Assalamu'alaikum wr wb
Selamat datang di MIQRA INDONESIA GROUP. Sumber Inspirasi, Motivasi, Ilmu dan Amal untuk ke-SUKSES-an hidup Anda di dunia akhirat.
Ayo Gabung Dengan Komunitas Pembaca MIQRA INDONESIA GROUP
Dapatkan Hadiah Ebook:
”ILMU MENJADI KAYA”

Setelah Anda bergabung dengan Mailing List MIQRA INDONESIA GROUP.


| ILMU MENJADI KAYA |

Test Footer

Your Ad Here

04 January 2009

Nurani Kedamaian


Nurani Kedamaian

Oleh: ARDA DINATA


Betapa bahagianya kita menyaksikan adanya perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pihak pemerintah berdasarkan hasil dari sebuah diplomasi. Namun belakangan ternyata, perjanjian tersebut diwarnai kekecewaan. Irian Jaya juga masih memendam masalah, demikian juga Ambon. Artinya, kegalauan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih terancam. Untuk itulah, semua pihak patut menyadari pentingnya "nurani kedamaian" dalam hidup berbangsa ini. Dan kalau tidak, kapan kita membangun bangsa ini?


Adanya perpecahan dan ketidak damaian di wilayah NKRI, penyebabnya berawal dari kesenjangan ekonomi-sosial. Wujudnya bisa adanya ketidak adilan di setiap elemen, kesombongan merajalela, kedengkian, cinta kelompok yang berlebihan, dan keserakahan.


Hemat kami, kesadaran potensi itulah yang harus dikedepankan oleh semua pihak dan elemen bangsa. Yang selanjutnya, masing-masing elemen hendaknya komitmen terhadap aktualisasi "nurani kedamaian" sebagai wujud penghalang dari bahasa kekerasan dan permusuhan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin NKRI ini menjadi damai di atas ridha-Nya.


Indonesia adalah negara yang penduduknya sebagian besar umat Islam. Sehingga umat ini memegang peranan penting dalam terwujudnya kedamaian. Kuncinya kita harus mempunyai tekad berdamai, semangat bersaudara, semangat bertabayun, semangat berjuang demi kemajuan bersama. Dan yang lebih penting dari itu, adalah kita harus mampu mengaktualisasikan secara nyata atas Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua pihak. Langkahnya, umat harus mencontoh Rasulullah Saw., diantaranya berupa memulai dengan nasehat baik, dengan berperilaku yang baik, atau dengan tindakan yang menjadikan orang tertarik pada kita.


Di sini, Allah menyatakan dalam firman-Nya."Serulah kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik." (QS.16: 125). Selain itu, bukankah Allah juga bersifat Maha Rahman dan Maha Rahim?? Artinya sungguh mustahil, Allah yang mempunyai sifat Maha Sayang dan Maha Kasih tersebut, menurunkan hukum-hukum bagi manusia yang bertentangan dengan sifat-sifat-Nya. Buktinya, Allah dalam QS. Anbiya: 107, menyebutkan: "Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad Saw), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."


Prinsip perdamaian dalam Islam bertitik tolak dari akidah (iman kepada Allah). Kita harus yakin bahwa bila manusia mengikuti syariah Allah maka perdamaian di muka bumi bisa dijamin, karena perdamaian dalam Islam berkaitan erat dengan keyakinan akan kepercayaan terhadap-Nya. Sehingga tidaklah basa basi, kalau Islam sangat memperhatikan kedamaian. Sebab dengan kedamaian, kita dapat beribadah dengan baik, membangun peradaban, berhubungan harmonis sesama manusia, dan mewujudnya manusia sebagai khalifah di bumi ini.


Konsekuensi dari kesadaran sebagai wakil Allah yang menjamin kedamaian sesama manusia, maka terlebih dahulu kita harus paham betul akan sesuatu yang disukai oleh manusia. Yakni pada dasarnya manusia itu: senang membantu orang lain; menghendaki citra pribadinya dapat diterima orang lain; senang bila dirinya dibutuhkan; senang dipuji; senang memilih; tidak mau dipermalukan; senang melihat yang rapi dan bersih; senang bila menjadi penting; suka kepada pendengar yang baik; senang diberitahu; dan senang melihat wajah yang bersahabat. Dengan memahami hal ini, kami yakin setiap kita akan berjuang keras untuk menciptakan "nurani kedamaian" dalam dirinya.


Akhirnya, komitmen membangun kedamaian mulai 2003 ini adalah cita-cita luhur. Namun hal ini tidak akan terwujud bila yang kita gunakan adalah bahasa kekerasan, satelit prasangka buruk, dan trik-trik ketidak adilan serta kesombongan. Kedamaian akan terwujud bila setiap kita memiliki semangat [bersaudara, mencari solusi, dan maslahat bersama] yang dibalut dengan bekal keikhlasan, komitmen keadilan dan moralitas. Wallahu'alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.

01 November 2008

Menapaki Jalan Kebahagiaan

Menapaki Jalan Kebahagiaan

Oleh: ARDA DINATA
DAPAT dipastikan setiap kita mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Sehingga pantas bila Syaikh Syarbashi pernah berkata, "Semua manusia yang hidup di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan dan ingin bisa meraihnya walaupun dengan harga yang tinggi."

Kebahagiaan itu, ternyata di mata orang-orang bodoh dan pendusta adalah dianggap sebagai lafaz yang tidak berhakikat dan merupakan khayalan fatamorgana yang tiada nyata. Sungguh ini adalah sesuatu yang kontradiksi dengan kenyataan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini penuh dengan kebaikan, kenikmatan dan keberkahan. Lebih-lebih Allah telah menurunkan Alquran sebagai petunjuk hidup manusia agar titak susah (baca: QS. Thaha: 2).


Kenyataan berfikir model itulah, sesungguhnya awal penyebab terjadinya kegagalan menggapai kebahagiaan hidup. Untuk itu, sangat tepat bila setiap kita melakukan kontemplasi terhadap sikap hidup yang telah kita lakukan selama ini. sebab, tanpa melakukan "penilaian" terhadap sikap hidup dirinya sendiri, maka jangan harap "kemulusan" kebahagiaan itu menghampiri kita.


Terkait dengan itu, seorang dokter Muslim, Tsabit Qurrah, memberikan perhatian melalui fatwa dan tipsnya yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan. Beliau mengatakan, "Kenyamanan jasad adalah dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan sedikit berbicara."


Secara demikian, yang membuat seseorang dapat menapaki jalan kebahagiaan itu, kuncinya ada dalam perilaku dan sikap hidupnya sendiri. Yakni berupa bagaimana keyakinan kita memperlakukan jasad, jiwa, hati, dan lisannya itu secara benar. Dan di sini, kata kuncinya ada pada sikap "sedikit" terhadap makan, dosa, keinginan, dan berbicara.


Pertama, kebahagiaan jasad dengan sedikit makan. Jasad ini seperti sebuah mesin dan bahan bakarnya adalah makanan. Artinya, kita hendaknya mempergunakan bahan bakar itu secara wajar, sebab jika berlebihan ia bisa lebih berbahaya daripada api. Begitu juga dengan jasad, bila tidak dikekang dari keinginan nafsunya, ia akan berbahaya bagi orang lain dan menghilangkan citra kemunisaannya. Hebatnya lagi, ia bisa lebih buas dari binatang yang cenderung membuat keonaran dan kerusakan.


Kedua, kebahagiaan jiwa dengan sedikit dosa. Hal ini dapat dipahami, sebab jiwa itu cenderung memerintahkan untuk berbuat jelek (ammarah bissu), maka jika ia terbebas dari ikatannya ia akan lari bergabung dengan setan. Dan konsekuensinya, ia akan berkolusi, korupsi, menipu, dan berbuat sewenang-wenang yang melapaui batas. Oleh karena itu, musuh paling berat manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Bagi siapa yang menturutkan hawa nafsunya, ia akan celaka. Al-Busyiri berkata dalam sebuah syairnya, "Jiwa itu bagaikan anak kecil. Jika kamu memanjakannya, hingga tumbuh dewasa pun ia akan tetap menyusu kepada ibunya. Akan tetapi, jika kamu menyapihnya maka ia akan berhenti menyusu." Jadi, jauhilah hawa nafsu, dan berhati-hatilah untuk tidak memperturutkannya.


Ketiga, kebahagiaan hati dengan sedikit keinginan. Langkahnya yaitu dengan meminimalkan rasa duka, rasa takut, dan rasa resah. Hal ini didasari karena di dalam hati yang resah sesungguhnya akan terbuka pintu-pintu kelemahan dan ketidak menentuan. Dan kondisi seperti ini membuat hati dihadapkan pada dua pilihan pintu masuk, yaitu: pintu keresahan atau pintu keberkahan. Walau demikian, hanya dengan modal insting yang kuat dan berani ia akan mampu mempertahankan yang terbaik. Islam sendiri, dalam hal ini telah mengajarkan pada pemeluknya bagaimana cara memilih kebahagiaan dan ketenangan hati itu, seperti disebutkan dalam QS. Ar-Ra'd: 28, Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.


Keempat, kebahagiaan lisan dengan sedikit berbicara. Alasanya, semakin sering seseorang berbicara (yang tidak berguna), semakin besar peluangnya orang tersebut akan tergelincir. Lisan yang terbiasa mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak pantas akan membahayakan orang lain. Dalam hal ini, Ibn Abbas pernah berkata, "Ucapkanlah perkataan yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung. Jagalah perkataan-perkataan yang kotor, niscaya kamu akan selamat. Jika tidak, niscaya kamu akan menyesal kemudian."


Akhirnya, pastikan dalam menghadapi kehidupan ini, tubuh kita terjaga dari makanan yang berlebih-lebihan, jiwa terhindar dari perbuatan dosa, hati terjaga dari keinginan yang tidak terkendali, dan lisan terjaga dari perkataan yang kotor. Bila hal ini telah dilakukan, maka sesungguhnya kita telah menapaki dan menempuh jalan yang lurus lagi menjadi orang-orang yang berbahagia. Wallahu a'lam.***


Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.